Berapa kali dalam sehari kita membiarkan orang lain ‘mengocok’ emosi kita? Jalanan yang macet, teman yang mencotek (dan dapat nilai bagus lagi!), dosen yang ngajarnya membingungkan, orang tua yang pergi melulu dan masih banyak lagi. Maka pelampiasan yang paling mudah adalah berteriak : “Aaah…brengsek, macet melulu!” Atau “Dasar dia memang tukang contek, kalau aku biar nilai jelek tapi nilai sendiri” Atau “Nilaiku jeblok gara-gara dosen sialan, menjelaskan gak becus!” Atau “Aku sakaw karena ortuku tidak perhatian”. Memang paling enak melimpahkan kesalahan pada orang lain. Seperti –barangkali– kebiasaan masa kecil kita ketika terbentur tembok atau terjatuh, maka temboknya atau lantainya yang perlu dipukul. Betapa sejak dari muda, kita diajarkan untuk bersikap reaktif. Yakni, menyalahkan orang lain. Reaktif berarti membiarkan kendali ada pada orang lain dan bukan pada diri kita sendiri. Orang-orang reaktif membuat pilihan-pilihannya menurut dorongan hati. Mereka seperti sekaleng bir atau soda. Jika kehidupan mengocoknya sedikit saja maka tekanannya bertambah naik dan tiba-tiba mereka meledak. Padahal tidak susah lho, kalau kita berkata: “Alhamdulillah macet, berarti bisa hafalan Al Qur’an” atau “Sekarang saatnya saya belajar lebih keras, biar terbukti nilai bagus tidak identik dengan nyontek” atau “Aku harus belajar sendiri agar mudah memahami keterangan dosen” atau “Aku bisa berprestasi walau ortu sibuk, toh mereka sibuk memenuhi kebutuhanku juga”. Ya, inilah pilihan proaktif. Orang-orang proaktif membuat pilihan-pilihannya menurut nilai-nilai. Mereka berpikir sebelum bereaksi. Mereka sadar bahwa mereka tidak bisa mengendalikan segala yang terjadi menimpa mereka. Tetapi mereka dapat mengendalikan reaksi mereka. Mereka ibarat air, bila dikocok seperti apapun lalu dibuka tutupnya, takkan terjadi apa-apa. Tetap tenang, dingin, dan terkendali. Boleh jadi orang reaktif akan berkata begini: “Sebenarnya aku bisa jadi presiden, sayang ayahku kepalanya botak.” Apa hubungannya hayo? Orang reaktif selalu melihat permasalahan ada pada sesuatu di luar dirinya, padahal belum tentu kan? Sebaliknya orang proaktif dengan sadar memiliki dan bertanggung jawab terhadap pilihannya sendiri. Ketika kita bersikap reaktif sebenarnya pihak yang paling merugi adalah diri kita sendiri. Sebab reaktifitas, memicu energi emosi yang luar biasa. Kita akan merasa lemas, tidak bersemangat, tidak produktif, kehilangan kendali diri. Sebaliknya orang reaktif berpusat pada hal-hal yang bisa dikendalikan. Ketika dirong-rong adik yang rewel (sesuatu yang sulit kita kendalikan), kita selalu mengeluh karena merasa gara-gara adik rewel kita tidak bisa belajar maka kita rugi karena kehilangan kuasa diri. Akan lebih baik jika kita bersikap tenang. Lalu meminta bantuan orang lain menenangkan adik. Atau menghindarinya tanpa harus berteriak-teriak. Bukankah itu menunjukkan kamu berpusat pada hal-hal yang bisa kamu kendalikan? Yaitu dirimu sendiri. Cobalah untuk proaktif. Itu lebih sehat bagi dirimu dengan cara membandingkan respon-respon yang proaktif dengan yang reaktif terhadap situasi yang terjadi sehari-hari. Ketika sesuatu atau seseorang berusaha mengacaukan hidupmu, katakan pada dirimu sendiri: “Tenanglah, orang kuat bukanlah orang yang memenangkan pertandingan gulat, tetapi yang bisa mengendalikan dirinya sendiri.” Atau “Aku sih takkan membiarkan orang lain membuatku marah dan merusak hariku.”
UmumMay 8, 2006 7:28 am